Jangka sorong

Berisi pembahasaan pengunaan jangka sorong disertai dengan video cara pembacaan hasil

Video Powered by Youtube

Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui panjang, diameter luar, dan diameter dalam sebuah bentuk benda tertentu.

  • Berfungsi mengukur ketebalan suatu bentuk benda
  • Berfungsi mengukur diameter dalam bentuk benda menggunakan rahang tetap dan rahang geser atas
  • Berfungsi mengukur kedalaman suatu bentuk benda menggunakan tangkai ukur bagian bawah, misalnya kedalaman tabung, lubang kecil, atau perbedaan tinggi yang relatif kecil
  • Memiliki dua skala, yaitu skala utama dan nonius

Bagian Jangka Sorong

  1. Rahang dalam Terdiri dari rahang geser dan rahang tetap yang berfungsi untuk mengukur bagian dalam seperti diameter lumang atau celah suatu bentuk benda. 
  2. Rahang Luar Terdiri dari dua rahang, rahang geser dan tetap yang berfungsi untuk mengukur bagian luar, misalnya diameter, lebar, atau panjang bentuk benda tertentu.
  3. Tangkai Ukuran Kedalaman Bagian ini berfungsi untuk mengukur kedalaman lubang suatu benda tertentu
  4. Skala Utama Bagian ini berfungsi untuk menyatakan hasil ukuran utama yang biasanya dinyatakan dengan satuan cm atau inci, biasanya panjang skala utama adalah 15 sampai 17 sm.
  5. Skala Nonius Bagian ini pada jangka sorong berfungsi untuk menambahkan tingkat akurasi ekstra pada pengukuran yang biasanya dinyatakan dalam satuan inchi atau mm.
  6. Baut Pengunci Baut pengunci pada jangka sorong berfungsi untuk menahan agar rahang tetap pada tempatnya sehingga objek benda yang sedang diukur bisa tertahan atau tidak terlepas dan skalanya pun tidak bergeser saat sedang diukur.

Tingkat ketelitian pada jangka sorong, selalu mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Mulai dari 0,5 mm, 0,1 mm, 005 mm, hingga sekarang yang banyak digunakan mencapai 0,02 mm.

  1. Pertama siapkan terlebih dahulu objek atau benda yang akan diukur, misalnya kelereng, koin, atau lainnya

  2. Setelah itu buka rahang geser pada jangka sorong ke bagian sebelah kiri sampai benar-benar rapat agar bisa menghasilkan ukuran yang akurat

  3. Pastikan lagi bahwa kedua rahang tertutup dan skala menunjukkan angka nol. Hal ini perlu perhatikan agar tidak terjadi kesalahan pengukuran atau biasa disebut zero error

  4. Kendurkan pada bagian baut pengunci dan tarik rahang geser ke sebelah kanan, sampai benda yang ingin diukur bisa sesuai ditempatkan diantara dua rahang tersebut

  5. Letakkan benda antara kedua rahang dan pastikan kembali bahwa posisinya sudah sesuai dan tepat

  6. Tarik bagian rahang geser ke sebelah kiri sampai mengapit benda yang akan diukur, kemudian putar baut pengunci sampai terdengar suara klik

  7. Perhatikan garis yang terhimpit antara skala atas dan bawah atau skala nonius-nya. Temukan angka yang menyambungkan lurus dengan garis dari skala nonius tersebut

  8. Nah, hitunglah hasil pengukuran yang diperoleh dengan cara menjumlahkan kedua angkanya, maka itulah diameter benda yang diukur

  1. Berapa hasil pengukuran pada gambar contoh soal  di bawah.

    Pembahasan:

    • Pembacaan skala utama adalah 10 cm (angka 10 didapat karena posisinya persis berseberangan dengan angka nol pada skala vernier di bagian kanannya)
    • Pembacaan skala Vernier atau skala nonius adalah 0,02 cm (didapat dari garis kedua setelah nol pada skala vernier tepat lurus dengan garis di sebelah atasnya).

    Jadi, hasil pengukuran pada gambar contoh soal 1 di atas adalah 10 cm + 0,02 cm = 10,02 cm

  2. Berapa hasil perhitungan akhir dari pengukuran pada gambar di bawah dalam satuan centimeter

    Pembahasan:

    Lingkaran Biru menunjukan 5, 3 sekian cm, sekian ini akan kita dapatkan pada lingkaran merah
    Lingkaran Merah menunjukan 5 cm
    Jadi hasilnya  adalah 5,35 cm